Webinar Kolaborasi IKPAMI-IPANI

Penglihatan adalah salah satu faktor yang sangat penting dalam seluruh aspek kehidupan, apabila terdapat gangguan pada penglihatan seperti low vision, ini dapat menyebabkan efek negatif terhadap proses pembelajaran dan interaksi sosial sehingga dapat mempengaruhi perkembangan alamiah dari intelegensi maupun kemampuan akademis, profesi dan sosial.
Menurut World Health Organization, low vision adalah turunnya fungsi penglihatan seseorang secara permanen dan tidak dapat diperbaiki dengan bantuan kacamata standar, operasi ataupun medikamentosa. Pasien dengan low vision mengalami penurunan penglihatan yang bervariasi, mulai visus kurang dari 6/18 sampai hanya mampu melihat cahaya dengan visus 1/∞ atau light perception yang disertai dengan lapangan pandang yang sempit (<10º dari titik fiksasi).
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa gangguan penglihatan dan kebutaan dapat mengakibatkan penurunan pada kualitas hidup yang terlihat dari berkurangnya kemampuan seseorang untuk melakukan pekerjaan, mengisi waktu luang, dan melakukan kegiatan sehari-hari (Muhammad Asroruddin 2014, 2). Penyandang low vision pun mengalami hambatan dalam melakukan kegiatan sehari-hari seperti membaca, menulis, berjalan, menonton televisi, mengemudikan kendaraan bahkan kesulitan mengenali wajah seseorang. Berdasarkan laporan World Health Organization (2012), 285 juta penduduk dunia mengalami gangguan penglihatan dimana 39 juta di antaranya mengalami kebutaan dan 246 juta penduduk mengalami penurunan penglihatan (low vision). Sembilan puluh persen kejadian gangguan penglihatan terjadi di negara berkembang. Secara umum, kelainan refraksi yang tidak dapat dikoreksi (rabun jauh, rabun dekat, dan astigmatisme) merupakan penyebab utama gangguan penglihatan, sedangkan katarak merupakan penyebab utama kebutaan di negara berpendapatan sedang dan rendah (WHO, 2012).
Gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia terus mengalami peningkatan dengan prevalensi 1,5% dan tertinggi dibandingkan dengan angka kebutaan di negara–negara regional Asia Tenggara seperti Bangladesh sebesar 1%, India sebesar 0,7%, dan Thailand 0,3%. Penyebab gangguan penglihatan dan kebutaan tersebut adalah glaucoma (13,4%), kelainan refraksi (9,5%), gangguan retina (8,5%), kelainan kornea (8,4%), dan kelainan mata lain (Depkes RI, 2009).
Berdasarkan latar belakang tersebut pentingnya permasalahan low vision, serta terus meningkatnya jumlah penderita kelainan dan juga permasalahan tumbuh kembang yang dialami penderia low vision maka Ikatan Perawat Mata Indonesia (IKPAMI) Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Ikatan Perawat Anak Indonesia (IPANI) akan melaksanakan sebuah seminar online dengan tema kegiatan “Deteksi dan Stimulasi pada pasien low vision”.

Registrasi Keanggotaan IKPAMI Jawa Barat

Register Now

top
Open chat
1
Ada yang perlu dibantu?
Hai, ...
Selamat datang di IKPAMI Jawa Barat.
Ada yang bisa kami bantu?
Powered by